Menapaktilasi Jejak Megalitikum
di Lereng Arjuno (II)
lanjutan ............
Hari kedua, sekitar pukul 09.00 WIB kami sengaja tak sarapan. Setelah membawa bekal nasi putih dengan lauk kornet daging yang disiapkan oleh Dani, kami bertiga pun bergegas mendaki menuju Puncak Arjuno.
Bagiku yang sudah pernah melintasi jalur Purwosari, kondisi medan menuju puncak adalah yang paling kucemaskan, apalagi dalam kondisi cuaca buruk seperti saat ini.
Benar adanya, setelah melewati Pos VII (Jawa Dwipa), tepatnya ketika langkah kaki kami merambat lambat menuju Plawangan Puncak Arjuno, hujan sangat deras menerpa.
Namun karena sejak awal target kami adalah puncak, maka hujan badai pun tetap tak mampu membuat kami menyerah.
![]() |
| Jalur "Taman Bunga" menuju ke Plawangan. |
Namun karena sejak awal target kami adalah puncak, maka hujan badai pun tetap tak mampu membuat kami menyerah.
Sekitar pukul 14.00 WIB, kami pun tiba di Puncak Arjuno. Tak seperti biasa, tak ada seorang pun pendaki di puncak. Bahkan pemandangan sekitar puncak pun gagal kami nikmati akibat mendung tebal menyelimuti.
![]() |
| Touchdown at Puncak Arjuno. Kondisi gerimis dan kabut tebal. |
Ketika tiba di tampat kami dihajar badai tadi, ternyata hujan sudah tinggal gerimis. Kami kian bergegas menuruni bukit menuju kembali ke Wahyu Makuthoromo. “Jangan sampai keduluan gelap,” kata salah satu kawanku.
Setelah berjibaku dengan trek curam dan licin, sekitar pukul 17.30 WIB, kami pun tiba di gubuk milik Dani. Tanpa menunggu dipersilakan, sontak kami segera merebah, meluruskan punggung yang rasanya mau patah.
Lagi-lagi suhu dalam gubuk yang hangat membuat kami kian lelap malam itu.
Keesokan paginya, kami lebih nyantai. Pegal yang jauh berkurang ditambah beban target puncak yang sudah tercapai membuat kami kembali bersemangat untuk turun gunung.
Satu-satunya yang bikin kami berat untuk pulang adalah keramahan Dani dan pelaku spiritual lainnya. Wahyu Makutharama, menurut saya adalah pos paling nyaman dari sekian pos yang pernah saya inapi di gunung manapun.
Sekitar pukul 11.00 WIB, setelah berfoto bersama, kami pun berpamitan dengan Dani. Sudah tak terbilang berapa kali kami berucap terima kasih untuk semua kebai kannya.
Beban yang jauh berkurang membuat tubuh kami seolah ringan. Perjalanan turun gunung pun menjadi lebih mudah.
![]() |
| Berfoto sejenak dengan salah satu pelaku ritual di lereng Arjuno |
Mau lihat sedikit foto-foto lainnya selama perjalanan kami, klik di sini
Data dan Estimasi Waktu Pendakian Arjuno via Purwosari
Tarif Simaksi: Rp15.000 per orang (2018-2019)
Base Camp - Onto Boego (+/- 1 jam)
Onto Boego - Tampuono (+/- 1,15 jam)
Tampuono - Eyang Sakri (+/- 15 menit)
Eyang Sakri - Eyang Semar (+/- 2 jam)
Eyang Semar - Makuthorommo (+/- 1 jam)
Makuthoromo - Candi Sepilar (+/- 30 menit)
Candi Sepilar - Jawa Dwipa (+/- 1,5 jam)
Jawa Dwipa - Plawangan (+/- 3 jam)
Plawangan - Puncak Ogal Agil (+/- 1 jam)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar