Menapaktilasi Jejak Megalitikum
Lereng Arjuno (I)

Sebuah catatan pendakian Gunung Arjuno via Purwosari
![]() |
| Pos perizinan Gunung Arjuno di Tambak Watu, Kecamatan Purwosari, Malang, Jawa Timur |
Setelah membayar bea Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) Gunung Arjuno sebesar Rp15.000 per orang, kami segera mengecek kembali peralatan. Bagi kami, mendaki gunung setinggi 3.339 mdpl terutama di jalur Purwosari yang dikenal bertanjakan ekstrem, perencanaan dan persiapan jelas hal yang sangat penting.
Sesekali kepala kami mendongak. Pandangan kami buang ke arah lebatnya hutan yang tersaput kabut tebal. “Sepertinya di atas sudah hujan,” kataku sambil menengadahkan telapak tangan, merasakan rintik gerimis yang sudah mulai terasa.
Memasuki gerbang, pemandangan masih laiknya lereng gunung. Rumah warga, dan kandang ternak masih kami jumpai. Begitu pula sesekali warga yang melintas sembari membawa seikat besar rumput hijau.
Sedangkan ingatan saya terus mengarah ke Gunung Muria, Jawa Tengah. Ketika mendaki Gunung Muria atau bagi para pelaku ilmu Kejawen disebut dengan Saptoargo dengan puncaknya bernama Puncak Sangalikur. Betapa tidak, beberapa petilasan yang ada di Gunung Arjuno memiliki nama yang sama dengan petilasan-petilasan di Gunung Muria.
Baru setengah jam berjalan, hujan deras sudah mengguyur tubuh kami. Dari kejauhan sudah terlihat patung naga berkepala dua. “Pos Onto Boego sudah dekat,” teriakku berusaha mengalahkan deru hujan yang kian deras.
Onto Boego atau dalam bahasa umum dikenal Antaboga. Inilah situs pertama yang kami jumpai. Patung naga berkepala dua itu kian terlihat jelas. Situs Onto Boego berada di ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Situs ini berupa gua dengan kedalaman 1,5 meter dan lebar 1 meter serta mempunyai ketinggian 1,25 meter.
Di depan gua tersebut terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan oleh para pendaki dan peziarah untuk melepas penat. Sebuah cungkup dengan arsitektur Jawa tampak berdiri megah dengan altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup berukuran sekitar 6,5 × 6,5 meter.
Nama Antaboga sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan bernama Sang Hyang Antaboga alias Sang Nagasesa alias Sang Hyang Basuki. Dalam dunia pewayangan Sang Hyang Antaboga berwujud seperti ular naga dan dikenal sebagai dewa penguasa dasar bumi. Dia mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta.
Tanpa menunggu hujan reda, kami kembali bergegas. Sekitar satu jam berselang, kami tiba di situs berikutnya: kompleks Tampuono.
![]() |
| Tugu Onto Boego |
Dikatakan kompleks karena di tempat ini terdapat beberapa situs, di antaranya adalah petilasan Eyang Abiyasa, petilasan Eyang Sekutrem, dan sendang (telaga kecil) Dewi Kunti.
Petilasan Eyang Abiyasa terletak di ujung jalan setapak yang ditata rapi dan diplester serta di kiri kanan jalan dibentuk taman-taman yang sangat rapi dan bersih. Petilasan ini lantas mengingatkan saya dengan petilasan serupa yang berada di puncak Gunung Muria, Jawa Tengah.
Di sampingnya ada sebuah bangunan berukuran 2,5 x 2 meter yang terlindung oleh pohon-pohon besar. Di dalamnya ada sebuah arca dari batu andesit setinggi kurang lebih 70 sentimeter.
Merasa cukup menghangatkan tubuh dengan segelas kopi panas sembari menunggu hujan sedikit mereda, kami kembali bergegas. Ternyata tak lebih dari 15 menit berjalan, kami sudah tiba di situs berikutnya, petilasan Eyang Sakri. Sayangnya, bangunan yang terkunci rapat membuat kami tak bisa melongok seperti apa bentuk petilasan itu.
![]() |
| Kompleks Tampuono |
Tak ingin kehilangan waktu, kami lanjutkan perjalanan. Sekitar 10 menit berjalan, kami menjumpai sebuah bangunan mirip padepokan yang lengang dengan gapura bertuliskan Sugeng Rahayu dalam aksara Jawa.
Selepas bangunan itu, jalur kian menanjak. Kami pun seolah abai dengan pemandangan alam di sekitar kami yang terus tersaput mendung. Kami lebih fokus pada medan menanjak dan nafas yang kian sesak.
Tak terasa, sekitar 1,5 berjalan menapaki jalur berbatu yang terus menanjak, kami tiba di persimpangan. Kepalaku mendongak ke atas, ada papan bertuliskan Eyang Semar.
“Lewat sini. Sudah sampai,” teriakku.
Di kejauhan terlihat sebuah pondokan yang biasa digunakan peziarah untuk beristirahat. Semakin kaki melangkah mendekat, ternyata tak hanya satu, tetapi ada beberapa pondokan di sana. “Lalu di mana petilasan Eyang Semar?” pikirku sambil terus mengarahkan mataku ke segala arah.
Ternyata petilasan itu ada di atas. Setelah melintasi jalan setapak, akhirnya terlihat pula petilasan itu. Dibanding petilasan yang sudah kulihat sebelumnya, petilasan Eyang Semar sedikit terlihat lebih “mewah”. Tanpa tertutup bangunan, petilasan yang berada di ketinggian 1.850 mdpl ini berbentuk mirip dengan tokoh Semar dalam wayang kulit. Arca dari batu andesit ini berukuran tinggi 140 sentimeter, lebar 50 sentimeter dan dinaungi oleh dua buah payung berumbai.
Tak jauh beda dengan penampakan Semar pada umumnya, arca itu mempunyai ciri khusus yaitu pada rambutnya terdapat semacam sanggul di depan, mata membelalak, alis tebal, mulut menyeringai, tangan kanannya di depan perut yang buncit dan tangan kirinya memegang sebuah senjata di depan perut.
![]() |
| Altar Eyang Semar |
Sayang, ciri khusus itu terlihat samar lantaran tubuh arca tersebut tertutup oleh kain putih. Namun tak apa, kepala arca itu--dengan konde di bagian depan--tetap terlihat.
Sembari menunggu kawan-kawan saya mengatur nafas dan menghisap beberapa batang rokok, saya sempatkan berkeliling di beberapa gubuk yang ada di sekitar petilasan. Langkahku berhenti cukup lama di gubuk yang ada tepat di samping petilasan.
Di sana kami bertemu dengan Pak To. Seorang kakek asal Surabaya yang mengaku sudah lebih dari 11 tahun menempati gubuk itu. Tak seperti orang kota yang banyak pamer soal modernisasi, Pak To justru lebih banyak menasehati saya soal hakikat hidup.
Asyik mendengarkan wejangannya, aku pun dikejutkan dengan peletik air dari langit yang menimpa pipi kanan. Gerimis. Artinya kami pun harus segera melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya: Wahyu Makutharama.
Masa istirahat yang cukup lama, ditambah dengan derajat kemiringan medan berbatu yang cukup curam menembus ilalang lebat, membuat kami kerap kehabisan nafas. Beruntung, gerimis yang kian menderas dan medan curam membuat kami tak punya cukup alasan untuk sekadar beristirahat.
Alhasil, sekitar 45 menit berjibaku dengan lebatnya ilalang, sebuah tangga batu yang tak beraturan membawa langkah kami terus menapakinya. Rasa lelah dan langkah yang nyaris menyerah sekejap berganti dengan sumringah ketika mata kami menangkap pemandangan sebuah punden berundak dengan dua buah batu tertancap di puncaknya.
“Masuk sini dulu, Mas,” teriak seseorang dari dalam gubuk memaksa langkahku mengarah ke ambang pintunya.
Di kegelapan dalam gubuk, samar-samar kami melihat ada dua orang lelaki bersila saling bercakap. Satu di antaranya mengenalkan diri, Dani namanya.
Mereka adalah pelaku spiritual yang masing-masing berasal dari Surabaya dan Pasuruan. Laiknya seorang tuan rumah, keduanya lantas mempersilakan kami untuk beristirahat.
Tak hanya itu, keduanya bahkan menyiapkan segala ragam makanan dan minuman kepada kami. Bermodalkan api dari tungku yang ada di tengah ruangan gubuk, mereka memasak, mulai dari minuman hangat, makanan berat, kudapan, hingga lalapan sayur yang nikmat.
Sembari menunggu api siap, Dani, salah satu pelaku spiritual menyarankan kepada kami untuk reresik di sungai. “Di sana ada Sendang Widodaren. Mandi dulu di sana, biar tubuh kalian beradaptasi dengan hawa dingin di sini,” kata dia.
![]() |
| Tungku yang terus menyala di dalam pos salah satu pelaku spiritual |
Kami pun menurut saja. Kami pun bergegas mengikuti langkah Dani membelah jalan setapak menurun ke arah sungai.
Sekitar 10 menit berjalan, kami tak melihat sebuah sendang yang sebelumnya kami bayangkan laiknya telaga besar. Kami hanya melihat jajaran batu kali berukuran raksasa memecah arus sungai berair bening.
Di salah satu sisinya, ada semacam kubangan selebar kurang lebih 3-5 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Kubangan itulah yang Dani sebut sebagai Sendang Widodaren. Di sanalah kami diminta untuk mandi.
Puas main air, kami pun segera bergegas. Terlebih sore kian meredup.
Dan ternyata benar, setelah mandi, udara dingin tak lagi membuat badan kami menggigil. Ditambah dengan keramahan Dani yang hangat dan api di dalam gubuk yang tak pernah padam, membuat malam kami di Wahyu Makutharama pun jadi hangat.
“Sudah malam ini istirahat di sini dulu. Kalau mau ke Puncak Arjuno, mending besok pagi-pagi saja,” kata Dani.
Bersambung.......
![]() |
| Salah satu pelaku spiritual berdoa di Sendang Widodaren |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar