Senin, 29 Februari 2016

Snorkeling

Tak Hanya Sekadar Berenang di Laut Dangkal

Bagi anda yang ingin berwisata di Karimunjawa, snorkeling tentu akan menjadi aktivitas utama yang ada di benak anda. Bagi anda yang ingin bersnorkeling, berikut ini saya akan berbagi sedikit tips agar aktivitas snorkeling anda di Karimunjawa menjadi nyaman, aman, dan tentu saja menyenangkan.

Karimunjawa, 83 km sebelah utara Pulau Jawa, adalah salah satu tempat dengan keberagaman biota laut yang sangat luar biasa. Lebih dari 69 marga karang keras dan tak kurang dari 353 spesies ikan karang hidup di perairan laut tropisnya yang jernih. Snorkeling pun menjadi favorit bagi setiap orang yang mengunjungi kepulauan cantik nan eksotik ini.

Hal-hal yang perlu diwaspadai

Bulu babi  (Echinoidea)

1. Bulu babi  (Echinoidea)
Bulu babi tersebar di hampir seluruh bagian spot Karimunjawa. Hewan yang juga kerap disebut Landak Laut ini pada dasarnya bersifat pasif dan tidak akan menyerang manusia. Namun bila tidak sengaja terinjak, durinya bisa menimbulkan rasa sakit dan pegal.
Bila terkena, cobalah untuk menghancurkan bulu babi yang sudah terlanjur masuk ke dalam kulit dengan cara memukul-mukul pelan bagian di dekatnya. Bulu babi yang telah hancur akan keluar bersama darah atau terbawa oleh air pada saat mandi. Jangan lupa untuk membubuhkan antiseptik. Nelayan lokal sering menggunakan cara tradisional yaitu menyiram bagian yang terkena bulu babi dengan air seni yang mengandung amonia.


Ubur-ubur
2. Ubur-ubur   
Ubur-ubur adalah hewan lain yang juga perlu diwaspadai ketikasnorkeling di Karimunjawa. Pada musim panas, jumlah populasinya bisa meningkat berkali lipat sehingga cukup sering terlihat di perairan Laut Jawa. Meski bentuk dan warnanya sangat cantik, sengatan ubur-ubur cukup berbahaya. Bahkan jika spesies tertentu menyengat perut atau dada bisa mengakibatkan luka yang fatal. Untuk pertolongan pertama, luka sengatan bisa dicuci dengan asam cuka 5%, alkohol 40-70%, baking soda, air jeruk lemon/nipis, atau amonia. Usahakan untuk tidak menyiramnya dengan air tawar dan menggosok bagian yang luka karena akan mempercepat masuknya racun ke dalam tubuh. Setelah itu korban harus secepatnya dibawa ke dokter.


Terumbu karang
3. Waspada terumbu karang
Penampakannya yang beraneka warna bisa jadi sangat menggoda anda untuk mendekatinya. Itulah, anda harus berhati-hati ketika saat menginjakkan kaki di atasnya. Selain dapat menyebabkan patahnya terumbu karang, bisa-bisa Anda justru menginjak Ikan Lepu Batu (synanceia).
Ikan yang pandai menyamarkan diri sebagai batu ini disinyalir sebagai ikan paling berbisa di dunia. Duri di punggungnya mengandung neurotoxins yang menyerang jaringan saraf dan bisa mengakibatkan kelumpuhan atau bahkan akibat yang lebih fatal jika korban tidak segera ditolong. Untuk pertolongan pertama, korban harus segera dikeluarkan dari air, kemudian luka dicuci dan dikompres dengan air panas dengan suhu minimal 45 derajat Celcius.Racun ikan ini terbentuk dari protein yang akan terurai pada suhu tinggi. Tapi, anda harus hati-hati, jangan sekali-kali mengompres dengan air yang mendidih. Karena ini justru akan semakin memperparahnya.




Ikan pari Manta
4. Ikan pari
Ikan pari bisa menjadi salah satu bahaya yang akan anda jumpai di lautan. Meskipun bukan dari jenis yang paling berbahaya, di beberapa wilayah Karimunjawa banyak terdapat ikan pari, seperti misalnya di Pulau Sintok.
Ikan ini kebanyakan tinggal di dasar lautan yang berpasir. Oleh karena itu Anda harus ekstra hati-hati ketika berjalan di laut dangkal. Memakai alas kaki adalah cara pencegahan yang terbaik. Maka cara terbaik adalah langkah yang sedikit diseret. Dengan begitu, seretan kaki anda akan menghamburkan pasir yang bisa membuat Ikan Pari kabur.
Dari sekian banyak jenis Ikan Pari, tercatat hanya jenis-jenis Ikan Pari seperti Manta saja yang bisa berakibat fatal bila ekornya menyengat manusia. Bila Anda terkena bisanya, rendamlah luka atau kompres dengan menggunakan air panas minimal 45 derajat Celcius untuk menguraikan bisanya.

Jumat, 12 Februari 2016

Disapa Surya Pertama




Hari ini, saya sengaja bangun lebih pagi. Jarum jam weker di kamar menunjukkan sekitar pukul 04.30. "Masih ada lah waktu barang setengah jam," pikirku sambil menyeruput secangkir kopi setelah mandi.
Tepat pukul 05.00, aku pun segera menuju garasi. Sambil menunggu mesin motor memanas, kuhabiskan batang terakhir rokokku di pagi ini.

Untuk menuju Kebun Buah Mangunan, perjalanan sungguh tak susah. Dari Jogja, untuk menuju ke sana, tinggal mengikuti jalan utama dan papan arah yang menuliskan 'Bantul'. Kali ini, kuputuskan menyisir Jl.Imogiri Barat.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, aku pun sudah tiba di dasar bukit Mangunan. Papan arah yang bertuliskan 'Kebun Buah Mangunan' sudah mulai terlihat.

Papan arah yang kujadikan patokan kali ini memang tak berlebihan. Pasalnya, setelah melewati papan arah ini, kontur trek yang kulalui sudah jauh berbeda. Jika sebelumnya, trek yang kulalui hanya jalanan datar dan lurus, kali ini adalah jalan berkelok dan menanjak sudah terhampar di depan mata.

Lantaran sedikit-banyak, aku sudah hafal alur kelokan jalanan di sini, aku pun tak butuh waktu lama untuk menjejakkan kaki di tempat wisata yang mulai dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul sejak 2003 itu. Untuk bisa masuk ke dalam, aku harus menyiapkan uang sebesar Rp5.000.

Tentu saja, lokasi wisata ini tak akan kudatangi jika di dalamnya tak ada jalur treking. Hanya saja kali ini jalur treking yang ada sudah jauh lebih rapih. Namanya saja kebun buah, sepanjang perjalanan, kebun buah, hutan kecil, kolam pancing dan fasilitas outbond menjadi pemandangannya.Tak lebih dari 30 menit, trekingku pun berakhir. Di gardu pandang yang ada di puncak kebun itu pun ternyata sudah ada beberapa orang yang lebih dulu menjemput sunrise. "Inilah pemandangan favoritku," pikirku sambil menahan nafas yang semakin masih tersengal.


Di seberang pagar pembatas, gumpalan awan masih menyelimuti hamparan hijau yang tak lain itu adalah hutan Bantul. Beberapa titik bukit nampak menonjol menembus gumpalan putih yang mirip kapas itu. Beruntung, saat tiba di puncak kebun, aku masih sempat disapa oleh sunrise. Hangat cahaya matahari pagi berbaur dengan sejuk udara Mangunan. Memang, Bukit Mangunan berada di deretan Pegunungan Seribu dengan ketinggian 150-200 meter di atas permukaan laut.


Keterangan rute dan angkutan
Belum ada angkutan umum yang menuju Kebun Buah Mangunan sehingga bila ingin menuju tempat ini disarankan untuk menyewa kendaraan.
Jalan termudah untuk menuju Kebun Buah Mangunan adalah lewat Jl. Imogiri Timur. Dari Terminal Giwangan lurus saja ke selatan sampai pasar ambil jalan ke kiri, selanjutnya setelah polsek ambil kanan, dan ikuti petunjuk jalan yang sudah terpasang. Selain rutenya yang mudah dihafal, jalur ini termasuk masih sepi, sejuk, dan memiliki pemandangan hijau berupa sawah dan pepohonan rindang. Saat weekend banyak juga para pesepeda tangguh yang bersepeda melewati jalur ini.

Rabu, 10 Februari 2016



Pesona Batu Kuning yang Mengepul





 "Tak usah lewat Baturraden, ya," usul kawan saya saat kami merencanakan untuk piknik ke Pancuran Tujuh.

Memang, hampir semua orang yang ingin ke Pancuran Tujuh, di benaknya selalu terlintas lokawisata Baturraden.Tapi karena kami ini adalah traveller yang hobi tracking, kami ingin pergi ke Pancuran Tujuh tanpa harus melewati jalur mainstream yang banyak dilalui orang.

Kali ini kami pun memilih jalur di Dusun kalipagu, Desa ketenger Kec. Baturaden. Di sini, kami cukup bayar ongkos parkir sebesar Rp2.000 di rumah penduduk desa setempat. Bonusnya, sebelum memasuki desa, kami sempat disuguhi keindahan curug (air terjun) Bayan. Sesampainya di Dusun kalipagu, kami Cuma tinggal jalan kaki sampai ke Pancuran Tujuh. Tentu saja, karena masih melintasi rumah-rumah warga, tak ada satupun bea masuk yang menghadang kami.

Sedikit tips, bagi anda yang ingin treking ke Pancuran Tujuh via jalur ini, kami sarankan untuk berangkat lebih pagi. Pasalnya, jalur yang akan anda tempuh nantinya, lumayan panjang dan panas dengan medan sawah, ladang, dan kebun warga.

Ini dia salah satu trek di sekitar PLTA Ketenger
Di tengah perjalanan, kami menjumpai bangunan yang berpapan nama 'PLTA Ketenger'. Di sinilah kami beristirahat sejenak. Ternyata di sini ada yang berjualan Kripik Kimpul Manunggal, jajanan khas Purwokerto. "Ini treking yang paling memanjakan," seru salah satu kawan saya.

Setelah melintasi jembatan, langkah kaki pun menuntun kami memasuki area hutan. Tak lama berjalan, akhirnya kami pun menjumpai sebuah air terjun. "Hore. Kita sampai, bro," teriak kawanku.

Sepintas, air terjun itu mirip dengan Pancuran Tujuh. Itu terlihat dari bentuk batuannya yang berwarna kekuningan. Tapi, aku sendiri yakin, bahwa Pancuran Tujuh yang pernah kudatangi beberapa tahun lalu, bukan seperti ini bentuknya. "Bukan. Bukan ini," timpalku.

Yakin bahwa itu bukanlah tujuan kami, perjalanan pun dilanjutkan. Trek yang terus menanjak, terus kami lahap. Satu per satu tangga batu menjadi menu tanjakan kami. Pohon pinus dan sedikit eucalyptus serta aroma belerang perlahan mulai menusuk hitung, kami pikir, tujuan kami pun kian dekat.



Ternyata benar. Hamparan tujuh buah pancuran berupa lubang dari batu kuning mulai terlihat. Itulah Pancuran Tujuh. Sebagai informasi, Pancuran Pitu berasal dari bahasa Jawa, yang berarti air terjun yang berjumlah tujuh.

Tapi itu bukan berarti Pancuran Pitu berupa air terjun dengan ketinggian laiknya sebuah air terjun. Pancuran Pitu ternyata memiliki tinggi air tajuh sekitar 1 meter, yang menarik dari Pancuran Pitu adalah tujuh buah lengkungan air terjun yang tercipta akibat aliran air panas (belerang) secara terus menerus.

Selasa, 09 Februari 2016

Surga Itu Bernama Karimunjawa

Travel Joglo Semar yang kami tumpangi terus melaju menuju ke arah Semarang. Kecepatan sedang yang digunakan oleh sopir membuat perjalanan terasa melambat. Akhirnya, saya dan tiga orang kawan saya pun baru masuk ke Semarang setelah kurang lebih 4 jam. "Padahal, kalau naik sepeda motor, bisa sampai ke Semarang sekitar tiga jam," pikirku.

Pantai kartini
Akhirnya, sekitar pukul 1 siang, kami tiba di Semarang, tepatnya di Terminal Terboyo. Setelah mencari kesini dan kesana bus Semarang-Jepara, kami pun mendapatkannya.
Sekitar hampir tiga jam perjalanan, kami pun tiba di Jepara. Lantaran sejak awal, niat kami ke Karimunjawa adalah sebagai backpacker, maka sesampainya di Jepara, kami pun berusaha mencari penginapan yang murah meriah. Pilihan pun kami jatuhkan kepada salah satu penginapan bernama Kota Baru Homestay yang berlokasi di sekitar Pantai Kartini, Jepara.

Kota baru sendiri adalah homestay yang menurut kami cukup recomended, khususnya untuk backpacker yang biasanya melakukan penyeberangan pagi hari dengan Kapal Ferry KMP Muria ataupun Express Bahari. Dengan fasilitas yang cukup komplet, harga homestay ini relatif tak menguras isi dompet.

Dengan dekorasi semacam di Bali, room rate untuk Fan Room dengan kamar mandi di luar seharga Rp. 70.000 /malam dan saya sendiri mengambil Room AC dengan kamar mandi di dalam seharga Rp. 140.000 /malam. Untungnya di Pantai Kartini ini juga terdapat warung yang buka sampai malam, dengan menu nasi, mie instan, bakso dan harganya pun standar (maksimal Rp. 10.000 /menu).

Oh ya, disarankan kalau berlibur pada high season sudah booking untuk Homestay Kota barunya, karena pasti akan banyak yang ingin menginap di sini.

Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00, kami pun segera mengantre tiket kapal ekspres.Tepat jam 2 siang kapal Express Bahari meluncur ke Karimunjawa dengan 2 jam perjalanan. Terik matahari sore menyapa saat kami tiba di dermaga Karimunjawa. Pemandangan luar biasa terhampar di depan mata. Lautan yang begitu jernih dan Gugusan Pulau yang indah.

Satu lagi tips untuk anda yang ingin berlibur di Karimunjawa, jangan ragu untuk membooking terlebih dulu homestay. Kali ini kami memilih Karimun Indah sebagai tempat menginap. Di Homestay ini ada beberapa room rate dengan harga yang standar dengan fasilitasnya, Room AC dengan kamar mandi dalam Rp. 250.000 /malam. Kami pilih Room Fan dengan kamar mandi di luar Rp. 80.000 /malam.

Sebagai catatan, di Karimunjawa listrik hanya menyala dari jam 6 sore-jam 6 pagi, jadi saya pikir juga sangat sayang bila menyewa kamar yang bagus hanya untuk tidur, dan untuk anda, jangan lupa recahrge HP sampai penuh pada malam hari ya.

Karena kami adalah backpacker yang juga suka nongkrong, pilihan terhadap Karimun Indah ternyata tak salah. Homestay ini ternyata satu-satunya yang memiliki halaman luas. Jadi, ketimbang masuk kamar lantas tidur, lebih baik spend the time dengan nongkrong.

Tak membawa rombongan banyak, ternyata cukup menguntungkan jika anda memilih backpacker-an ke Karimunjawa. Jumlah rombongan yang sedikit, memungkinkan anda untuk bergabung bersama grup tur lainnya. Tentu saja, ini akan membuat pengeluaran anda menjadi jauh lebih irit.

Contohnya kami ini. Dengan digabungkan bersama grup tur lainnya, kami hanya perlu menyiapkan uang sebesar Rp150.000/hari/orang. Tarif itu ternyata sudah lengkap untuk sewa alat snorkling, life jacket, sewa kapal, tur guide, makan siang, photo underwater.

Bagi backpacker macam kami, haram hukumnya jika harus menghabiskan malam hanya dengan tidur dan nonton televisi di kamar hotel. Kami pun memutuskan untuk menikmati malam pertama kami di Karimunjawa. "Bagaimana kalau kita ke Alun-Alun saja," ajakku kepada kedua kawanku.

Untuk ke Alun-Alun, kami hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 10 menit saja dengan berjalan kaki. Laiknya sebuah alun-alun, di sini banyak penjual makanan dan sovenir. "Lumayan kan, tak usahlah kalian mencari pusat sovenir lagi," kataku.

Penangkaran hiu di Wisma Apung
Pagi pun tiba. Saatnya tur bahari. Saat jam tangan kami menunjukkan pukul 8 pagi, kami segera bergegas menuju Pulau Menjangan Kecil. Menu kami kali ini cukup seru. Mulai dari snorkeling ke Pulau Tengah, sampai makan siang ala barbeque di Pulau Batu Topeng.Sekadar informasi saja, di Pulau Batu Topeng ini banyak gazebo untuk bersantai dengan latar belakang hutan yang masih cukup asli. Berikut tips untuk anda yang hobi snorkeling.
Sedangkan di Pulau Tengah ada peangkaran Hiu, dan pulaunya ditumbuhi dengan rerumputan hijau dan penginapan berbentuk rumah Panggung.

Hari berikutnya, menu kami masih seputar snorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Tentu saja, spotnya berbeda dengan hari sebelumnya. Begitu juga dengan makan siang ala barbeque di Pantai Pulau Gelean. Tak hanya itu, kami pun sempat menjajal spot snorkeling di Pulau Cemara hingga santai lagi di Pantai Pulau Ujung Gelam.

Salah satu spot di Pulau Geleang
Di Pulau Gelean ini, saya sungguh terpesona dengan pohon-pohon dan tanaman yang berjajar indah menghiasi pantai, selain tentu saja lautnya yang jernih. Sedangkan Pulau Ujung Gelam, merupakan salah satu Pantai favorit wisatawan untuk melihat sunset. "Tapi apes bro. Sunsetnya ga keliatan. Mendung," keluh salah satu kawan saya.

 Hari terakhir, semakin haram saja bagi kami untuk berdiam diri di kamar hotel.Kami pun penasaran dengan spot darat di Karimunjawa. Jika anda menganggap Karimunjawa itu selalu identik dengan laut, maka anda bisa kami pastikan salah.

Bukit Joko Tuwo. Begitulah orang sini menyebutnya. Jika ingin melihat Karimunjawa dari ketinggian, di sinilah tempat yang paling pas.

Dari homestay kami, untuk ke Bukit Joko Tuwo hanya memerlukan waktu tak lebih dari 20 menit saja dengan berjalan kaki. Jadi, bagi anda yang hobi trekking, inilah saat yang tepat untuk memuaskan hasrat trekking anda. Sebenarnya bisa saja kami menyewa motor dengan harga Rp75.000 per hari untuk menuju ke Bukit Joko Tuwo. Tapi tentu saja kami akan melewatkan pemandangan yang luar biasa ini jika kami menyewa motor untuk menuju ke sana.

Ini dia fosil paus sepanjang 12 meter di Bukit Joko Tuwo
Sungguh, kagum kami tak berhenti berdecak di sepanjang tur darat ini. Di puncak bukit, kami sudah disambut oleh fosil ikan paus yang bernama Si Joko Tuwo dengan panjang mencapai 12 meter. Tentunya, spot di sinilah yang menurut kami sangat pas menjadi klimaks tur backpacker kali ini.

Betapa tidak, setelah puas bercengkerama dengan ombak, pasir putih dan aroma laut, kini kami menutup tur dengan bersantai di puncak bukit Joko Tuwo sembari melahap sunset Karimunjawa. Sungguh, lelah kami menapaki jalur menanjak bukit tadi, terbayar sudah dengan penutup hari yang sungguh sangat luar biasa ini.


Beberapa pemandangan dari spot Bukit Joko Tuwo



   

Terumbu karang di Karimunjawa



Senin, 08 Februari 2016

Menjejak Atap Menoreh

Puncak Suroloyo adalah titik tertinggi Pegunungan Menoreh yang membentang dari barat laut Kabupaten Kulonprogo (DIY) hingga sebelah timur Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) dan sebagian Magelang (Jawa Tengah). Dengan ketinggiannya yang mencapai 1.019 mdpl kita bisa menyaksikan jelas pemandangan Candi Borobudur yang terlihat sangat kecil dikelilingi 4 ‘dinding raksasa’-nya, yakni Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, serta Merapi. Bicara sedikit soal Pegunungan Menoreh. Barisan pegunungan yang jika kita lihat, berada di sisi barat laut Candi Borobudur, tampak seperti Budha tidur. Hanya saja dalam ukuran sangat besar.
Sepeda motor masih bertahan di kecepatan 80 km/jam. Dari pusat kota Jogja, setidaknya kami melewati hingga 6-7 traffic ligth di sepanjang Jl.Jogja-Wates. Sebenarnya ada rute yang jauh lebih pendek, yakni melewati Jl.Godean hingga menyeberangi Sungai Progo.
Tapi karena saya harus menjemput kawan di sekitar Ambar Ketawang, maka mau tak mau, rute panjang ini pun harus saya pilih. Sesampainya di simpang empat Ngeplang, Sentolo, stang motor pun kami arahkan ke utara mengikuti jalan aspal lurus nan halus. Sekitar hampir 45 menit, barulah roda motor kami menyentuh areal parkir kawasan wisata Puncak Suroloyo. Tak berhenti sampai disitu, kaki kami sudah ingin terus kembali melangkah saja. Di depan kami, sekitar 286 anak tangga sudah menyambut dan memanggil. “Ini sih, kemiringan sekitar 50-60 derajat,” gerutuku.

Awalnya, kaki kami masih mantap menapaki satu per satu anak tangga. Setelah melewati sekitar 100 anak tangga, barulah kaki mulai berat. Lutut mulai tak lagi elastis. Begitu juga nafas, mulai semakin tersengal bahkan nyaris terasa putus. Yap. Titik 1.019 mdpl pun sukses kami jejak. Tiga buah gardu pandang ternyata sudah dipadati oleh pengunjung. Maklum, kedatangan kami memang bertepatan dengan hari libur sekolah.
Sebuah titik kecil yang kami yakini itu Candi Borobudur menjadi suguhan pertama. Berikutnya, secara bergiliran, mata kami melahap empat dinding besar di sekitarnya. Keempat dinding itu tak lain adalah Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Gunung Sumbing.
Salah satu titik pemandangan matahari terbit dari Puncak Suroloyo.
Sebagai titik tertinggi, Suroloyo merupakan tempat yang disakralkan oleh warga setempat. Setidaknya, itu terbukti dari adanya tiga tahapan pertapaan yang ada di kawasan itu. Pertapaan pertama atau pertapaan yang terbawah itulah yang biasa disebut Suroloyo. Jika terus ditelusur lebih tinggi, kami akan menemukan pertapaan yang kedua. Sariloyo, begitu warga biasa menyebutnya. Pemandangannya, sedikit berbeda dengan yang tampak di Suroloyo. Kali ini kami bisa melihat Gunung Sindoro dan Sumbing. Lebih tinggi lagi, kami ingin mencapai pertapaan ketiga, yang biasa disebut Kaendran. Dari pendopo di Kaendran ini, kami bisa melihat jelas pemandangan Kulonprogo dan birunya Samudera Hindia. “Lihat! Itu bukannya Pantai Glagah ya?” teriak salah satu bocah yang ada di dekat kami pada ayahnya.
Laiknya sebuah kawasan objek wisata, pemerintah setempat kini sudah kian mengembangkan fasilitas pendukung di atap Kulonprogo ini. Salah satunya adalah wahana permainan flying fox. Untuk bisa memanfaatkan ini, ternyata kami harus mendatangi spot yang bernama Tegal Kepanasan yang berada di bagian barat.
Ini dia jalur anak tangga yang harus dilalui.
Sayangnya, kami datang ke Suroloyo tidak tepat pada waktu idealnya. Harusnya, untuk menuju ke sini, kami harus berangkat lebih sore. Dengan begitu, kami tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk bisa menikmati matahari terbit. “Tapi ya sudah lah. Ini pemandangan matahari tenggelam saja sudah cukup bagus di sini,” gerutu kawan saya.
Oleh karena itulah, sangat kami sarankan, bagi traveller yang datang terlampau siang, bisa menyewa homestay untuk sekadar spend the time. Untuk tarif, saya yakin traveller bisa melakukan negosiasi terlebih dulu.**
Pemandangan saat mulai siang.
 


Berikut rute yang bisa anda tempuh
Dari Kota Jogja
Kalau kunjungan Anda ke Puncak Suroloyo dari arah kota Jogja, Anda bisa mengambil rute Godean, memang jalur ini paling umum digunakan karena jaraknya pendek. Lebih mudahnya Anda harus menuju Tugu Jogja dulu, kemudian ambil lurus terus ke arah barat, yakni Demak Ijo - Godean - Sentolo - Kalibawang - Puncak Suroloyo.

Dari Kota Semarang
Kalau kedatangan Anda dari arah Utara atau kota Semarang, Jalur tercepat yang bisa Anda tempuh adalah menuju arah Candi Borobudur. Adapun caranya, Setelah Anda melewati kota Magelang, sekitar 4km dari Karoseri Armada Magelang ke arah selatan, yakni arah Muntilan dan Jogja, Anda perhatikan terdapat Plang arah Candi Borobudur, Anda harus belok Kanan dan ikuti jalan tersebut hingga masuk kota Mungkid nanti akan ketemu pertigaan yang menuju arah Borobudur, Anda ambil jalur yang lurus. Jarak sekitar 2km lagi akan ketemu jembatan di tikungan, perhatikan selepas jembatan terdapat pertigaan, kemudian Anda ambil yang belok Kanan menuju Kalibawang. Ikuti jalur tersebut dan ikuti petunjuk atau marka jalan yang menuju Puncak Suroloyo.

Dari Kota Bandung
Kalau kunjungan Anda dari arah barat atau Kota Bandung dan lainnya, jalur tercepat bisa Anda lalui melalui Wates - Nanggulan. Adapun caranya, setelah memasuki Kota Wates, Anda harus mengambil jalan yang ke arah utara melewati Desa Pengasih, PPSJ Nanggulan - Kalibawang dan Puncak suroloyo.

Via Angkutan Umum

Kalau Kunjungan Anda ke Puncak Suroloyo berencana menggunakan Kendaraan umum, Anda bisa ikuti panduan singkat dari tips wisata murah home ini.Kalau dari arah kota Jogja, Anda bisa naik bus menuju Muntilan, kemudian sambung yang ke arah Kalibawang, lanjut Puncak suroloyo ( Untuk alternatif menuju puncak, bisa sewa jasa ojek). Begitu juga kalau Anda melalui utara atau kota Semarang, anda harus melalui Muntilan - Kalibawang. Kalau Kunjungan Anda melalui Arah Barat atau kota Bandung, Purwokerto, dan seterusnya. Dari terminal Wates Anda bisa naik Angkot yang menuju Kalibawang, langkah berikutnya sama seperti di atas. Selamat jalan jalan.