Surga Itu Bernama Karimunjawa
Travel Joglo Semar yang kami tumpangi terus melaju menuju ke arah Semarang. Kecepatan sedang yang digunakan oleh sopir membuat perjalanan terasa melambat. Akhirnya, saya dan tiga orang kawan saya pun baru masuk ke Semarang setelah kurang lebih 4 jam. "Padahal, kalau naik sepeda motor, bisa sampai ke Semarang sekitar tiga jam," pikirku.
 |
| Pantai kartini |
|
Akhirnya, sekitar pukul 1 siang, kami tiba di Semarang, tepatnya di Terminal Terboyo. Setelah mencari kesini dan kesana bus Semarang-Jepara, kami pun mendapatkannya.
Sekitar hampir tiga jam perjalanan, kami pun tiba di Jepara. Lantaran sejak awal, niat kami ke Karimunjawa adalah sebagai backpacker, maka sesampainya di Jepara, kami pun berusaha mencari penginapan yang murah meriah. Pilihan pun kami jatuhkan kepada salah satu penginapan bernama Kota Baru Homestay yang berlokasi di sekitar Pantai Kartini, Jepara.
Kota baru sendiri adalah homestay yang menurut kami cukup recomended, khususnya untuk backpacker yang biasanya melakukan penyeberangan pagi hari dengan Kapal Ferry KMP Muria ataupun Express Bahari. Dengan fasilitas yang cukup komplet, harga homestay ini relatif tak menguras isi dompet.
Dengan dekorasi semacam di Bali, room rate untuk Fan Room dengan kamar mandi di luar seharga Rp. 70.000 /malam dan saya sendiri mengambil Room AC dengan kamar mandi di dalam seharga Rp. 140.000 /malam. Untungnya di Pantai Kartini ini juga terdapat warung yang buka sampai malam, dengan menu nasi, mie instan, bakso dan harganya pun standar (maksimal Rp. 10.000 /menu).
Oh ya, disarankan kalau berlibur pada high season sudah booking untuk Homestay Kota barunya, karena pasti akan banyak yang ingin menginap di sini.
Keesokan harinya, sekitar pukul 13.00, kami pun segera mengantre tiket kapal ekspres.Tepat jam 2 siang kapal Express Bahari meluncur ke Karimunjawa dengan 2 jam perjalanan. Terik matahari sore menyapa saat kami tiba di dermaga Karimunjawa. Pemandangan luar biasa terhampar di depan mata. Lautan yang begitu jernih dan Gugusan Pulau yang indah.
Satu lagi tips untuk anda yang ingin berlibur di Karimunjawa, jangan ragu untuk membooking terlebih dulu homestay. Kali ini kami memilih Karimun Indah sebagai tempat menginap. Di Homestay ini ada beberapa room rate dengan harga yang standar dengan fasilitasnya, Room AC dengan kamar mandi dalam Rp. 250.000 /malam. Kami pilih Room Fan dengan kamar mandi di luar Rp. 80.000 /malam.
Sebagai catatan, di Karimunjawa listrik hanya menyala dari jam 6 sore-jam 6 pagi, jadi saya pikir juga sangat sayang bila menyewa kamar yang bagus hanya untuk tidur, dan untuk anda, jangan lupa recahrge HP sampai penuh pada malam hari ya.
Karena kami adalah backpacker yang juga suka nongkrong, pilihan terhadap Karimun Indah ternyata tak salah. Homestay ini ternyata satu-satunya yang memiliki halaman luas. Jadi, ketimbang masuk kamar lantas tidur, lebih baik spend the time dengan nongkrong.
Tak membawa rombongan banyak, ternyata cukup menguntungkan jika anda memilih backpacker-an ke Karimunjawa. Jumlah rombongan yang sedikit, memungkinkan anda untuk bergabung bersama grup tur lainnya. Tentu saja, ini akan membuat pengeluaran anda menjadi jauh lebih irit.
Contohnya kami ini. Dengan digabungkan bersama grup tur lainnya, kami hanya perlu menyiapkan uang sebesar Rp150.000/hari/orang. Tarif itu ternyata sudah lengkap untuk sewa alat snorkling, life jacket, sewa kapal, tur guide, makan siang, photo underwater.
Bagi backpacker macam kami, haram hukumnya jika harus menghabiskan malam hanya dengan tidur dan nonton televisi di kamar hotel. Kami pun memutuskan untuk menikmati malam pertama kami di Karimunjawa. "Bagaimana kalau kita ke Alun-Alun saja," ajakku kepada kedua kawanku.
Untuk ke Alun-Alun, kami hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 10 menit saja dengan berjalan kaki. Laiknya sebuah alun-alun, di sini banyak penjual makanan dan sovenir. "Lumayan kan, tak usahlah kalian mencari pusat sovenir lagi," kataku.
 |
| Penangkaran hiu di Wisma Apung |
Pagi pun tiba. Saatnya tur bahari. Saat jam tangan kami menunjukkan pukul 8 pagi, kami segera bergegas menuju Pulau Menjangan Kecil. Menu kami kali ini cukup seru. Mulai dari snorkeling ke Pulau Tengah, sampai makan siang ala barbeque di Pulau Batu Topeng.Sekadar informasi saja, di Pulau Batu Topeng ini banyak gazebo untuk bersantai dengan latar belakang hutan yang masih cukup asli.
Berikut tips untuk anda yang hobi snorkeling.
Sedangkan di Pulau Tengah ada peangkaran Hiu, dan pulaunya ditumbuhi dengan rerumputan hijau dan penginapan berbentuk rumah Panggung.
Hari berikutnya, menu kami masih seputar snorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Tentu saja, spotnya berbeda dengan hari sebelumnya. Begitu juga dengan makan siang ala barbeque di Pantai Pulau Gelean. Tak hanya itu, kami pun sempat menjajal spot snorkeling di Pulau Cemara hingga santai lagi di Pantai Pulau Ujung Gelam.
 |
| Salah satu spot di Pulau Geleang |
Di Pulau Gelean ini, saya sungguh terpesona dengan pohon-pohon dan tanaman yang berjajar indah menghiasi pantai, selain tentu saja lautnya yang jernih. Sedangkan Pulau Ujung Gelam, merupakan salah satu Pantai favorit wisatawan untuk melihat sunset. "Tapi apes bro. Sunsetnya ga keliatan. Mendung," keluh salah satu kawan saya.
Hari terakhir, semakin haram saja bagi kami untuk berdiam diri di kamar hotel.Kami pun penasaran dengan spot darat di Karimunjawa. Jika anda menganggap Karimunjawa itu selalu identik dengan laut, maka anda bisa kami pastikan salah.
Bukit Joko Tuwo. Begitulah orang sini menyebutnya. Jika ingin melihat Karimunjawa dari ketinggian, di sinilah tempat yang paling pas.
Dari homestay kami, untuk ke Bukit Joko Tuwo hanya memerlukan waktu tak lebih dari 20 menit saja dengan berjalan kaki. Jadi, bagi anda yang hobi trekking, inilah saat yang tepat untuk memuaskan hasrat trekking anda. Sebenarnya bisa saja kami menyewa motor dengan harga Rp75.000 per hari untuk menuju ke Bukit Joko Tuwo. Tapi tentu saja kami akan melewatkan pemandangan yang luar biasa ini jika kami menyewa motor untuk menuju ke sana.
 |
| Ini dia fosil paus sepanjang 12 meter di Bukit Joko Tuwo |
Sungguh, kagum kami tak berhenti berdecak di sepanjang tur darat ini. Di puncak bukit, kami sudah disambut oleh fosil ikan paus yang bernama Si Joko Tuwo dengan panjang mencapai 12 meter. Tentunya, spot di sinilah yang menurut kami sangat pas menjadi klimaks tur backpacker kali ini.
Betapa tidak, setelah puas bercengkerama dengan ombak, pasir putih dan aroma laut, kini kami menutup tur dengan bersantai di puncak bukit Joko Tuwo sembari melahap sunset Karimunjawa. Sungguh, lelah kami menapaki jalur menanjak bukit tadi, terbayar sudah dengan penutup hari yang sungguh sangat luar biasa ini.
Beberapa pemandangan dari spot Bukit Joko Tuwo
Terumbu karang di Karimunjawa