Senin, 08 Februari 2016

Menjejak Atap Menoreh

Puncak Suroloyo adalah titik tertinggi Pegunungan Menoreh yang membentang dari barat laut Kabupaten Kulonprogo (DIY) hingga sebelah timur Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah) dan sebagian Magelang (Jawa Tengah). Dengan ketinggiannya yang mencapai 1.019 mdpl kita bisa menyaksikan jelas pemandangan Candi Borobudur yang terlihat sangat kecil dikelilingi 4 ‘dinding raksasa’-nya, yakni Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, serta Merapi. Bicara sedikit soal Pegunungan Menoreh. Barisan pegunungan yang jika kita lihat, berada di sisi barat laut Candi Borobudur, tampak seperti Budha tidur. Hanya saja dalam ukuran sangat besar.
Sepeda motor masih bertahan di kecepatan 80 km/jam. Dari pusat kota Jogja, setidaknya kami melewati hingga 6-7 traffic ligth di sepanjang Jl.Jogja-Wates. Sebenarnya ada rute yang jauh lebih pendek, yakni melewati Jl.Godean hingga menyeberangi Sungai Progo.
Tapi karena saya harus menjemput kawan di sekitar Ambar Ketawang, maka mau tak mau, rute panjang ini pun harus saya pilih. Sesampainya di simpang empat Ngeplang, Sentolo, stang motor pun kami arahkan ke utara mengikuti jalan aspal lurus nan halus. Sekitar hampir 45 menit, barulah roda motor kami menyentuh areal parkir kawasan wisata Puncak Suroloyo. Tak berhenti sampai disitu, kaki kami sudah ingin terus kembali melangkah saja. Di depan kami, sekitar 286 anak tangga sudah menyambut dan memanggil. “Ini sih, kemiringan sekitar 50-60 derajat,” gerutuku.

Awalnya, kaki kami masih mantap menapaki satu per satu anak tangga. Setelah melewati sekitar 100 anak tangga, barulah kaki mulai berat. Lutut mulai tak lagi elastis. Begitu juga nafas, mulai semakin tersengal bahkan nyaris terasa putus. Yap. Titik 1.019 mdpl pun sukses kami jejak. Tiga buah gardu pandang ternyata sudah dipadati oleh pengunjung. Maklum, kedatangan kami memang bertepatan dengan hari libur sekolah.
Sebuah titik kecil yang kami yakini itu Candi Borobudur menjadi suguhan pertama. Berikutnya, secara bergiliran, mata kami melahap empat dinding besar di sekitarnya. Keempat dinding itu tak lain adalah Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Gunung Sumbing.
Salah satu titik pemandangan matahari terbit dari Puncak Suroloyo.
Sebagai titik tertinggi, Suroloyo merupakan tempat yang disakralkan oleh warga setempat. Setidaknya, itu terbukti dari adanya tiga tahapan pertapaan yang ada di kawasan itu. Pertapaan pertama atau pertapaan yang terbawah itulah yang biasa disebut Suroloyo. Jika terus ditelusur lebih tinggi, kami akan menemukan pertapaan yang kedua. Sariloyo, begitu warga biasa menyebutnya. Pemandangannya, sedikit berbeda dengan yang tampak di Suroloyo. Kali ini kami bisa melihat Gunung Sindoro dan Sumbing. Lebih tinggi lagi, kami ingin mencapai pertapaan ketiga, yang biasa disebut Kaendran. Dari pendopo di Kaendran ini, kami bisa melihat jelas pemandangan Kulonprogo dan birunya Samudera Hindia. “Lihat! Itu bukannya Pantai Glagah ya?” teriak salah satu bocah yang ada di dekat kami pada ayahnya.
Laiknya sebuah kawasan objek wisata, pemerintah setempat kini sudah kian mengembangkan fasilitas pendukung di atap Kulonprogo ini. Salah satunya adalah wahana permainan flying fox. Untuk bisa memanfaatkan ini, ternyata kami harus mendatangi spot yang bernama Tegal Kepanasan yang berada di bagian barat.
Ini dia jalur anak tangga yang harus dilalui.
Sayangnya, kami datang ke Suroloyo tidak tepat pada waktu idealnya. Harusnya, untuk menuju ke sini, kami harus berangkat lebih sore. Dengan begitu, kami tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk bisa menikmati matahari terbit. “Tapi ya sudah lah. Ini pemandangan matahari tenggelam saja sudah cukup bagus di sini,” gerutu kawan saya.
Oleh karena itulah, sangat kami sarankan, bagi traveller yang datang terlampau siang, bisa menyewa homestay untuk sekadar spend the time. Untuk tarif, saya yakin traveller bisa melakukan negosiasi terlebih dulu.**
Pemandangan saat mulai siang.
 


Berikut rute yang bisa anda tempuh
Dari Kota Jogja
Kalau kunjungan Anda ke Puncak Suroloyo dari arah kota Jogja, Anda bisa mengambil rute Godean, memang jalur ini paling umum digunakan karena jaraknya pendek. Lebih mudahnya Anda harus menuju Tugu Jogja dulu, kemudian ambil lurus terus ke arah barat, yakni Demak Ijo - Godean - Sentolo - Kalibawang - Puncak Suroloyo.

Dari Kota Semarang
Kalau kedatangan Anda dari arah Utara atau kota Semarang, Jalur tercepat yang bisa Anda tempuh adalah menuju arah Candi Borobudur. Adapun caranya, Setelah Anda melewati kota Magelang, sekitar 4km dari Karoseri Armada Magelang ke arah selatan, yakni arah Muntilan dan Jogja, Anda perhatikan terdapat Plang arah Candi Borobudur, Anda harus belok Kanan dan ikuti jalan tersebut hingga masuk kota Mungkid nanti akan ketemu pertigaan yang menuju arah Borobudur, Anda ambil jalur yang lurus. Jarak sekitar 2km lagi akan ketemu jembatan di tikungan, perhatikan selepas jembatan terdapat pertigaan, kemudian Anda ambil yang belok Kanan menuju Kalibawang. Ikuti jalur tersebut dan ikuti petunjuk atau marka jalan yang menuju Puncak Suroloyo.

Dari Kota Bandung
Kalau kunjungan Anda dari arah barat atau Kota Bandung dan lainnya, jalur tercepat bisa Anda lalui melalui Wates - Nanggulan. Adapun caranya, setelah memasuki Kota Wates, Anda harus mengambil jalan yang ke arah utara melewati Desa Pengasih, PPSJ Nanggulan - Kalibawang dan Puncak suroloyo.

Via Angkutan Umum

Kalau Kunjungan Anda ke Puncak Suroloyo berencana menggunakan Kendaraan umum, Anda bisa ikuti panduan singkat dari tips wisata murah home ini.Kalau dari arah kota Jogja, Anda bisa naik bus menuju Muntilan, kemudian sambung yang ke arah Kalibawang, lanjut Puncak suroloyo ( Untuk alternatif menuju puncak, bisa sewa jasa ojek). Begitu juga kalau Anda melalui utara atau kota Semarang, anda harus melalui Muntilan - Kalibawang. Kalau Kunjungan Anda melalui Arah Barat atau kota Bandung, Purwokerto, dan seterusnya. Dari terminal Wates Anda bisa naik Angkot yang menuju Kalibawang, langkah berikutnya sama seperti di atas. Selamat jalan jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar